Jumat, 02 Maret 2012

Cerpen Rumah yang Dikuburkan


Rumah yang Dikuburkan

Kalau pada suatu hari ia jumpai ayahnya sudah dalam keadaan gantung diri, maka ia akan langsung bersyukur. Kalau pada suatu hari ia pergoki ibunya sedang bermesraan dengan entah siapa di gudang belakang rumah, tentu ia juga akan bersyukur. Sudah sewajarnya jika ayahnya harus mengambil keputusan gantung diri. Rasanya, hanya jalan itulah yang paling memungkinkan, mengingat istrinya sendiri semakin nekat mengumbar keinginan. Dulu, ia sempat menduga, kejadian di gudang belakang rumah tak akan terulang, dan sebagai laki-laki, ayahnya akan dengan mudah melupakan. Rupa-rupanya kejadian di gudang belakang rumah itu terus terulang, bahkan seperti meminta dengan sengaja bahwa ayahnya bisa melihat dengan mata kepala sendiri.
“Bagaimana, ayah?” ia pernah bertanya.
“Tak apa-apa. Sebaiknya begitulah.”
“Sudah seharusnya?”
“Ya. Tak perlu dicari sebab dan alasannya. Yang pasti sudah terjadi. Entah dengan lelaki siapa pun, aku tak peduli.”
“Ayah tak cemburu? Sebagai laki-laki ayah tak menuntut, tak merasa kalah?”
“Pertanyaanmu bagus. Tetapi, memang, sudah sebaiknya.”
Ia tercekat, mengulum ludah. Memandang hamparan ladang tembakau, selintas masih dilihatnya para pemetik tembakau mengenakan mantel anti-air hujan. Ayahnya meluruskan kaki di meja beranda.
Ia memutuskan diri untuk berkuda, meninggalkan ayahnya.
Begitu hampir setiap hari, waktu berjalan dingin. Di daerah S, ayahnya dikenal sebagai juragan, orang kaya yang memiliki ladang tembakau cukup luas. Hampir semua pekerja yang merawat ladang tembakau itu adalah warga daerah S sendiri, yang merasa cocok bekerja untuk ayahnya. Orang-orang yang bekerja pada ayahnya hanya ingin mengabdi, ayahnya sendiri tipe orang yang bisa menghargai siapa pun. Itulah yang membuat warga daerah S selalu tunduk, bahkan ada yang tak segan berjalan munduk-munduk, berjalan sangat sopan dan hati-hati jika di depan ayahnya.
Pada setiap sore, ayahnya akan selalu menghibur diri, menginginkan kegundahannya bisa bebas dengan berkuda. Sengaja ayahnya berkuda sendirian, mengelilingi keluasan ladang tembakau. Sengaja ayahnya menghirup udara sesegar dan sebanyak mungkin, tak mau merasa tertekan. Kalau pada suatu sore sang ayah berpapasan dengan sang anak yang kebetulan juga sedang berkuda, maka sang anak akan menyambutnya dengan biasa-biasa saja.
Ternyata, benarlah, antara ayah dan anak tak perlu menganggap ada yang istimewa, ayah dan anak cukup hanya bertegur sapa ringan, tak perlu menampakkan kasih sayang berlebihan. Bahkan, kalau tegur sapa itu sudah dilakukan berkali-kali, terhitung berkali-kali dalam satu minggu, misalnya, bukankah yang kemudian muncul justru rasa bosan? Karenanya, ia memutuskan, jika bertegur sapa cukup jika dinilai penting, dan terlebih lagi kalau memang mau, jika berkehendak. Jika tak berkehendak, apalah yang bisa dipaksakan?
Berkuda dan mengelilingi ladang tembakau yang luas. Dua hal itulah yang memberikan jaminan kebebasan. Siapa pun yang menempuhnya pasti merasa lapang dada. Kawasan tanah dataran tinggi mampu memberikan kenyamanan, terutama bagi orang yang memilih hidup untuk frustrasi, seperti ayahnya.
Kadang-kadang, ia sengaja memandang ayahnya dari kejauhan, melihat kemungkinan bahwa ayahnya akan mengisi waktu luang sebagai alasan frustrasi. Hal wajar yang selayaknya diterima laki-laki, tak perlu memberontak, lebih baik dibikin abadi. Kadang-kadang, dari kejauhan itulah ia melihat ayahnya berkuda dengan tatapan mata kosong, seperti seorang pangeran yang tak lagi punya wibawa. Kuda yang ditungganginya lumayan gagah, namun kekosongan matanya bisa sebagai bukti bahwa sang ayah adalah laki-laki yang harus rela menghancurkan kelelakiannya. Entah sudah berapa kali putaran dalam sekali jalan ia melihat ayahnya mengelilingi ladang tembakau, entah berapa waktu lagi yang dibutuhkan ayahnya untuk sekadar menghibur diri.
Hari berpilin, berubah, berganti. Pagi, siang, sore, malam, seperti piranha beku yang tak sanggup menjelaskan makna. Waktu menjadi bernilai kosong.
Ayahnya masih berkuda.
Rumah seperti terkuburkan, serta-merta. Kalau ada yang sedikit istimewa dalam ruang tamu hanyalah sebiji foto keluarga yang bertengger di dinding. Ia, ayah, dan ibunya, tersenyum. Tak masam. Kejenakaan yang tersisa, kebahagiaan yang memancar dari senyuman. Sampai kapan pun, ketiga orang dalam foto itu akan terus tersenyum. Siapa pun yang memandangnya akan ikut merasakan bahagia. Foto yang akan bergoyang ringan ketika ditiup angin dari arah ladang tembakau, melewati beranda, melewati jendela, ngungun di ketiga wajah yang tersenyum. Ia sendiri hanya mengenakan celana pendek, buntek, sementara ayah dan ibunya mengenakan busana Jawa, sempurna dengan belangkon.
Ia kerap membayangkan, ibunya akan bergumul dengan entah siapa, tepat di depan mata kepalanya sendiri. Atau, ia akan melihat bersama-sama dengan ayahnya? Pasti, dengan perasaan ikhlas. Wajarlah. Sampai suatu kesempatan, dalam rutinitas hari-hari yang memuncak beku, ia jumpai ayahnya yang gantung diri, tepat di tengah ruang tamu, menghadap foto keluarga yang tersenyum. Tak mesti menjulurkan lidah, tak mesti membelalakkan mata, ayahnya mati. Ia memastikan ibunya akan biasa-biasa saja melihatnya, justru dengan ringan akan menurunkan mayat suaminya dari tali gantungan, pun menguburkannya sendiri.
Ia tahu, ketika ia melihat ayahnya dalam keadaan gantung diri, ibunya masih bergumul dengan entah siapa di gudang belakang rumah, dekat kandang kuda. Kerap ia tergoda, sekali waktu ingin membakar tumpukan jerami yang ada di pinggir-pinggir dinding papan kayu, di luar gudang. Biarlah ibunya mati saat tengah bergumul. Namun, hal itu urung ia lakukan. Ia menggagalkannya sendiri. Ia memang akan terus merasakan suasana rumah semakin membusuk, tanpa ada alasan dan jawaban atas pertanyaan.
Ia justru sangat bersyukur ayahnya memilih gantung diri dengan semangat yang penuh tawa. Ia kasihan melihat ayahnya menghibur diri hanya dengan berkuda, mengelilingi ladang tembakau, setiap sore.

Cerpen Bunga Jepun



ulan sesudah bom meledak di Legian, Luh Manik belum memutuskan apa-apa. Saban petang ia masih suka menyusuri jalan setapak, melintasi beberapa petak sawah dan kebun pisang, untuk kemudian tiba di bangunan berbentuk los, di mana dulu ia biasa berlatih menari. Dulu, di sekitar petak sawah terakhir, di dekat sebuah pura kecil, Luh Manik senantiasa memetik bunga jepun. Ia tak perlu naik karena di batang pohon jepun entah oleh siapa, telah tersedia sebatang bambu lengkap dengan kait untuk menggaet bunga. Lalu, bunga-bunga jepun berwarna putih itu, setelah digaet memutar seperti baling-baling helikopter sebelum menyentuh tanah.
Luh Manik membayangkan dirinya tengah berada di dalam sebuah pesawat yang melaju ke luar negeri. “Aku mestinya sudah menari di luar negeri,” selalu ia mengakhiri khayalannya dengan kata-kata itu. Bergegas kemudian dipungutnya bunga-bunga yang berjatuhan menerpa belukar liar.
Waktu itu, Luh Manik sungguh menikmati hari-hari yang riang. Petang hari, setelah memetik bunga-bunga, biasanya bersama rombongan yang telah menunggunya di los dari bambu, ia berangkat menuju Nusa Dua. Ia selalu diberikan tempat di samping sopir dengan seorang penari lainnya. Sementara para penabuh berjejalan di bak truk bercampur dengan perangkat gamelan. Dalam cuaca hujan, mereka tak pernah takut. Cukup dengan menarik terpal untuk kemudian memfungsikannya seperti atap rumah, dan mereka akan terlindung dari guyuran air hujan sederas apa pun. Perjalanan dari Desa Poh menuju Nusa Dua biasa ditempuh dalam dua setengah jam. Sepanjang jalan, tak henti para penabuh menembangkan lagu-lagu pop Bali yang sedang digemari. Sembari memukul kendang, mereka menyanyikan lagu-lagu karangan Widi Widiana, penyanyi pop Bali yang lagi populer itu.
Meski hanya diberi honor antara Rp 7.000 sampai Rp 10.000, Luh Manik bersama kelompok joged bungbung Teruna Mekar menjalani petang dengan riang selama hampir tiga tahun terakhir. Setidaknya kehidupan rata-rata warga Desa Poh yang hanya menggantungkan harapan pada kebun pisang dan sawah tadah hujan, agak tertolong dengan kontrak menari di beberapa hotel di kawasan wisata Nusa Dua. Selalu sebagian warga mendahului duduk-duduk di los sembari menunggu jemputan. Duduk-duduk di los seperti menunggu rezeki mengalir ke Desa Poh. Kedatangan truk pun lama kelamaan seperti kedatangan dewa penyelamat yang mengangkat mereka dari keterpurukan ekonomi.
Petang ini jalanan licin. Di bulan November, desa-desa di Bali sedang memasuki musim gerimis. Ini pertanda tak lama lagi musim hujan akan tiba. Semak belukar yang meranggas selama kemarau belum tumbuh sepenuhnya. Tanah yang kehitaman berkilau-kilau diterangi kilat dari langit di barat desa. Di dekat pohon jepun, Luh Manik berhenti sejenak, menelusuri batang, dahan, serta ranting yang bulat bergerigi sampai ke pucuk. Bunga jepun yang putih seperti malas mekar. Batang bambu yang dulu selalu digunakan untuk mengait kuntum-kuntum bunga sudah tidak ada lagi.
“Ah…,” gadis belasan tahun ini melenguh. Ia tak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Saban petang, setelah bom meledak di Legian, Luh Manik nekad memanjat batang pohon jepun untuk menemukan kuntum bunga. Batang pohon yang lembut itu seperti merasakan gesekan kulit Luh Manik yang halus. Mereka seperti dua kekasih yang lama terpisah. Dan hari ini, di petang yang dingin keduanya saling memeluk untuk melepas rindu. Daun-daun jepun yang bergoyang karena terpaan angin mengusap-usap rambut Luh Manik. Keduanya saling berbisik mengenangkan hari-hari menyenangkan.
“Aku masih ingat waktu kau petik berpuluh-puluh bungaku,” ujar pohon.
“Aku juga masih ingat saat kau menjatuhkan bunga, melayang seperti baling-baling pesawat…” jawab Luh Manik.
“Lalu…. lalu kau selalu merasa sedang menari di sebuah negeri yang jauh dari desa ini dengan merangkai bungaku di rambutmu.”
“Aku selalu mengidamkan menari di luar negeri, seperti para penari dari kota.”
“Bukankah menari di hotel juga untuk para bule itu?”
“Tetapi… aku ingin menikmati kepakkan baling-baling yang menebarkan wangi, hingga mengantarkan aku ke negeri bersalju.”
“Bukankah dari mulut para bule yang menciummu seusai menari senantiasa meluncurkan aroma harum anggur? Lalu, kau suntingkan bungaku di telinga mereka?”
“Sekarang tidak lagi. Kita hanya bunga belukar yang selalu mengidam-idamkan pergi ke luar negeri bersama-sama.”
Luh Manik memetik sekuntum bunga untuk kemudian diikatkan pada rambutnya yang panjang. Sambil berlari-lari kecil di atas pematang, ia memasuki setapak di bawah rimbunan kebun pisang.
Di dalam los selalu sudah ada beberapa lelaki yang dengan lesu memukul bilah-bilah bambu gamelan. Suaranya terdengar terseok-seok dari celah-celah batang pisang, di mana Luh Manik sedang berjalan. Dari jarak dua puluh lima meter, lapangan di depan los yang biasa digunakan Luh Manik berlatih menari, sudah ditumbuhi rerumputan. Batang bambu yang digunakan menggantung petromak di tengah-tengah lapangan, juga sudah tampak miring. Bahkan, kalau saja tidak ada batu yang mengganjalnya, mungkin batang bambu itu sudah lama roboh.
Luh Manik menerawang ke ambang petang. Langit di barat masih berkabut. Gerimis baru saja berhenti. Asap bergulung-gulung meluncur dari atap daun kelapa rumah beberapa warga. Petang begini mereka baru memutuskan untuk merebus pisang muda. Sejak kontrak menari di hotel-hotel diputus, sebagian besar warga seperti kehilangan pegangan. Mereka terlanjur menggantungkan diri pada kegiatan Teruna Mekar.
“Kudengar kamu akan kerja di Jakarta, Luh?” tanya lelaki setengah baya yang biasa menjadi pemukul kendang di Teruna Mekar. Luh Manik yang disambut dengan pertanyaan sewaktu memasuki los tercekat. Ia berpikir, begitu cepatnya kabar menyebar. Padahal, rencana itu baru ia kemukakan kepada Kadek Sukasti, temannya sesama penari.
“Kami sangat mengerti kemauanmu itu,” kata lelaki yang lain lagi.
“Hidup di sini sudah hampir tak ada harapan. Kami juga sedang memikirkan untuk menjual saja gamelan ini,” ujar lelaki pemukul bilah-bilah bambu dengan nada putus asa.
“Tetapi keputusanmu itu, menurutku sangat egois. Kemarin, baru kudengar kamu ingin terus tinggal di desa apa pun yang terjadi. Kedua orang tuamu sudah tidak ada, Luh. Mengapa mesti nekat hidup di kota keras seperti Jakarta?” berkata lelaki muda dengan sangat emosional.
“Kemarin, sewaktu aku melewati pohon jepun di pinggiran sawah, aku memutuskan untuk pergi saja,” jawab Luh Manik tegas. Meski baru berumur belasan tahun, tetapi Luh Manik jauh tampak lebih dewasa dalam berbicara. Mungkin karena ia terbiasa hidup mandiri. Ia tak pernah merasa rikuh ngomong bersama sekumpulan lelaki yang jauh lebih tua dari dirinya.
“Aku dengar pula kamu mulai bicara-bicara sambil memeluk pohon jepun di pinggiran sawah itu. Sebaiknya, Luh, kamu di sini saja tenangkan diri dahulu, sembari memikirkan langkah nanti…” kali ini berkata seorang kakek yang dianggap sebagai tetua kelompok Teruna Mekar.
Luh Manik terdiam. Ia merasa sedang diadili. Lelaki, pikirnya, seringkali terlalu egois dengan mengatasnamakan kelompok. Padahal, sesungguhnya mereka sendiri takut kehilangan pegangan, takut kehilangan perempuan seperti dirinya yang selama ini menjadi primadona Teruna Mekar. Mereka juga takut kehilangan sandaran hidup, hingga semuanya mesti dihadapi bersama-sama.
Baginya pohon jepun itulah sampai kini yang paling mengerti akan kesusahan warga Desa Poh. Selama bertahun-tahun, pohon jepun telah merelakan bunganya untuk dipetik, dirangkai, dan menjadi penarik para wisatawan. Bentuknya yang berbilah-bilah bisa menjadi aksen yang menarik jika disematkan pada rambut atau disuntingkan di telinga. Sebagai penari joged bungbung Luh Manik sadar benar, ia tidak akan bisa menari dengan baik tanpa bunga jepun.
“Luh, semua kita sekarang sedang stress. Tapi, kami minta tenang dulu, jangan pergi dalam keadaan pikiran masih kacau ya…” tambah lelaki tua tadi.
“Terima kasih, Kek,” Luh Manik selalu memanggil lelaki tua itu dengan sebutan “kakek”. “Aku hanya sedang mencoba mencari kemungkinan baru dari hidup ini. Hidup mesti terus berjalan, kendati kita hampir-hampir kehilangan sandaran untuk berdiri.”
“Jadi, kamu tetap ingin pergi ke Jakarta, tanpa memikirkan nasib kami?” kata lelaki emosional lagi.
“Nasib kita tergantung di tangan masing-masing, dan bukan pada bilah-bilah bambu gamelan itu. Ia hanya benda dan alat untuk memperbaiki nasib…” kata Luh Manik. Kata-kata ini meluncur begitu saja dari bibir perempuan berambut sepinggang ini tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Bahkan, di ujung perkataannya, Luh Manik seringkali kaget, mengapa ia berkata-kata sebegitu lancar dan bijak, bahkan jauh melebihi lelaki tua itu.
Percakapan itu akhirnya berakhir karena gerimis telah mengalirkan gelap sampai ke dalam los. Luh Manik bergegas kembali ke rumahnya. Malam terlelap dalam gemerisik suara jangkrik yang sesekali ditingkahi lolong anjing di kejauhan. Suaranya sayup-sayup menyusup di sela pepohonan. Desa Poh yang ringkih seperti lelaki tua yang terseok berjalan dalam hitam malam.
Pagi-pagi sekali Kakek mendatangi rumah Luh Manik. Dari celah pohon jambu tampak pula Kadek Sukasti bersungut-sungut di belakangnya. Sekelompok ayam yang sedang mengais makanan di halaman meloncat berhamburan. Tetapi, setelah Kakek dan Kadek Sukasti lewat, ayam-ayam itu kembali berkumpul saling berebut makanan dari singkong kering yang ditaburkan Luh Manik.
Setelah melewati deretan semak di jalan setapak sebelah barat rumah Luh Manik, makin jelas terlihat wajah keduanya sangat tegang. Bahkan, kepala Kakek tampak terguncangguncang karena ia memaksakan diri untuk berlari-lari kecil. Buntalan kainnya tak keruan, hampir-hampir saja melorot dari pinggangnya yang ceking.
Dengan bibir bergetar, Kakek berkata, “Luh… kali ini harapan kita satu-satunya habis sudah. Mereka sudah memutuskan untuk menjual gamelan. Warga menolak untuk memberitahu kamu. Dan tadi malam, seorang lelaki dari kota telah mengangkutnya. Semua, sampai alat pemukulnya. Katanya untuk koleksi….begitu.”
“….Kalau memang itu satu-satunya jalan meneruskan hidup, mengapa tidak?” jawab Luh Manik enteng. Pembicaraan mereka berlangsung di halaman, tepat ketika matahari berkilauan menembusi pucuk pohon kelapa tua di timur rumah.
“Luh…!” Kakek mengucapkan nama Luh Manik dengan mata membelalak penuh ketidakpercayaan. “Bukankah dulu kamu dan ayahmu yang bersikeras membangun kembali kelompok joged ini? Dan, kamu bersedia menjadi joged pada saat kita sulit menemukan penari. Bahkan, kamu rela berhenti dari sekolah untuk serius menekuni tari. Mengapa sekarang kamu seperti menyerah saja ketika kita menghadapi kesulitan…”
“Kek, apalah yang bisa saya perbuat lagi, kalau itu sudah menjadi keputusan mereka. Dan menurutku, desa ini tak memberi pilihan lain agar kita tetap hidup.”
“Bukan itu persoalannya. Kakek sendiri tidak tahu pasti entah siapa dulu yang menciptakan perangkat gamelan joged itu. Kakek pun hanya tahu bahwa gamelan itu sudah tersimpan di los, hingga kita tak berhak menjualnya, Luh…”
Meski kaget, Luh Manik berusaha bersikap wajar. Ia ingin berpikir realistis… “Mungkin maksud Kakek gamelan ini warisan dari leluhur?”
“Mungkin begitu.”
“Kek, cobalah beri mereka pilihan untuk melanjutkan hidup. Bukan warisan itu yang penting benar sekarang, kan? Kita semua terlanjur tergantung pada kontrak itu, hingga lupa mengurus ladang.”
“Berarti, kamu telah memangkas pohon kehidupan di desa ini sampai ke akarnya. Justru gamelan itulah gantungan hidup kita, siapa tahu situasi di Nusa Dua cepat pulih…. dan kontrak-kontrak dilanjutkan lagi.”
“Itu perkara nanti, Kek. Keadaan sekarang terus mendesak. Mereka perlu makan hari ini!”
Dengan wajah kesal, kecewa, dan marah, tanpa mengucap kata sepatah pun Kakek menggamit ujung kainnya dan berlalu dari hadapan Luh Manik. Sebelum lenyap di balik rerimbunan pohon, masih terdengar ia menggerutu. “Dasar anak kecil…! Entengkan soal berat.”
Sementara Kadek Sukasti, memilih tetap tinggal dan duduk di beranda menemani Luh Manik. Ia juga sedang berpikir turut serta mencari kerja ke Jakarta. Kebetulan, menurut ayahnya, seorang saudara jauh yang dulu tinggal di Denpasar, sudah dua tahun ini pindah tugas di Jakarta. Bisa saja ia tinggal di sana, sementara menunggu pekerjaan.
Luh Manik menerawang seakan tak percaya pada apa yang barusan ia ungkapkan. Ketika Kadek Sukasti menyentuh tangannya, mata Luh Manik berkaca-kaca. Sekarang, ia malah berbalik tak yakin kalau menjual gamelan menjadi satu-satunya jalan keluar dari kesulitan hidup di sini. Benar kata Kakek, bahwa ia telah memotong pohon sampai ke akarnya, hingga tak ada lagi yang bisa dijadikan sandaran warga desa.
Selama bertahun-tahun, warga telah meninggalkan kebiasaan mengolah tanah. Mereka percaya benar joged lebih banyak mendatangkan hasil. Selain uangnya bisa dinikmati langsung, setidaknya suara gamelan dan lenggak-lenggok Luh Manik dan Kadek Sukasti di saat menari, menjadi pelipur kemelaratan. Tingkah polah para bule yang turut menari bersama Luh Manik selalu membuat mereka terbahak. Bahkan, seringkali perawakan rata-rata lelaki bule yang tinggi besar diolok-olok sebagai Rahwana yang sedang mengintai Dewi Sinta. Tertawa berderai kemudian terdengar dari bak truk ketika mereka kembali ke desa.
Setelah sebentar masuk ke kamarnya, Luh Manik menggamit tangan Kadek Sukasti, “Ayo kita jalan-jalan…” ajaknya. Kadek Sukasti tak menolak. Ia mengikuti langkah Luh Manik menyusuri setapak sebelum akhirnya lenyap di balik rimbun bambu.
Tubuh dua perempuan muda itu tampak kecil dan ringkih dipandang dari perbukitan di selatan persawahan. Mereka sesekali saling pegang untuk menghindari jalan menurun yang licin. Rambut Luh Manik yang panjang, ia lilitkan begitu saja di lehernya.
Di petak sawah terakhir, keduanya duduk sembari menyandarkan tubuhnya pada batang pohon jepun. Sekuntum bunga jepun yang lepas dari ranting berputar-putar seperti baling-baling helikopter sebelum akhirnya menyentuh pangkuan Luh Manik.
“Apa rencanamu Luh?” tanya Kadek Sukasti memecah kebisuan. Luh Manik tak segera menyahut. Ia masih memperhatikan bilah-bilah bunga jepun yang layu di pangkuannya.
“Kamu jadi ke Jakarta, Luh?”
“Seperti yang sudah aku katakan, aku akan ikut saudaranya Nyonya Lin yang punya toko di Negara. Saudaranya itu juga punya toko onderdil sepeda motor di Jakarta. Mungkin aku akan kerja di sana…”
“Jadi pembantu?”
“Jadi pelayan toko.”
Tangan Luh Manik meremas bunga jepun, yang tadi melayang, berputar-putar, bagai pesawat yang dulu sering membawa ia bermimpi tentang negeri-negeri bersalju. Ia bermimpi menari di depan ratusan orang asing dengan pakaian gemerlap, lalu mendapatkan tepuk tangan dan ciuman beraroma harum anggur…

Cerpen Mimpi


Mimpi
Quantcast

Kenangan itu seperti kotak-kotak kardus yang berserak. Seperti saat ini ketika kumasuki desa tempat Simbah Ibu tinggal.
Batu-batu jalan setapak seperti memuntahkan kembali rindu yang tiba-tiba mencuat seperti kancing yang lepas begitu saja dari baju seragam anak sekolah. Ketika kumasuki desa itu, malam mulai merapat pada warna jingga di cakrawala. Malam yang selalu menakutkan bagi anak-anak ketika ibu mereka memberi warna hitam pada sebuah hari di mana matahari sedang penat menampakkan cahayanya. Malam pada akhirnya selalu menjadi kutukan. Tak ada satu pun yang menyukai malam di desa itu, hanya Simbah Ibulah yang selalu menyukai waktu di mana semua pekat menjadi penguasa sebuah hari dan sunyi.
Aku tidak tahu sejak kapan aku panggil perempuan itu Simbah Ibu. Perempuan dengan guratan waktu yang penuh pada wajah berhamburan seribu damai di tiap kedip matanya yang bercahaya. Mata yang sebening cinta. Mata yang memberiku keberanian memberi makna kesetiaan utuh pada Semesta. Mata itu benar-benar mengajariku menjadi utuh, menjadi perempuan. Karena hanya menjadi utuh, seorang perempuan akan melahirkan anak-anak yang bahagia. Mata itu memberiku nama Ratri.
”Mbah, mengapa namaku Ratri?”
”Karena kamu lahir pada sebuah malam yang penuh dengan pekat. Kepekatan yang mengerikan. Kepekatan yang begitu banyak melahirkan kesedihan. Malam yang membuat cinta berubah menjadi peluh birahi pada hati yang kosong.”
Perempuan renta itulah yang selalu mengajariku mencintai malam. Setiap malam dikecupnya pelan-pelan lelapku dan dengan lembut diajaknya aku keluar melihat bintang. ”Mari Nduk, kita berburu Bidadari”. Entah kenapa kata-kata itu selalu manjur membuat mataku langsung terbelalak gembira. Diajaknya aku ke halaman rumah tanpa alas kaki dan diajarkannya ritual ”memanggil Bidadari” itu padaku.
Pada awalnya tangan kami terkatup di depan dada. Mata kami perlahan terpejam dan mulai merasakan desir angin bergerisik di antara daun-daun kering. Suara gemerisik itu kadang seperti bisikan kesedihan yang entah dari mana datangnya. Entah kekuatan dari mana tangan kaki kami berdentam ke tanah dan seperti sebuah orkestra raksasa hati kami berdegup tak kuasa untuk menolak musik yang begitu saja menyeruak dari dada. Simbah Ibu dengan gemulai mulai meliukkan tubuhnya dan dengan perlahan penuh harap Bidadari akan segera turun. Aku ikuti gerakan itu. Gerakan pemanggil Bidadari, begitu Simbah Ibu menyebutnya.
”Mengapa kita memanggil Bidadari?”
”Karena jika Bidadari-Bidadari turun, maka desa kita menjadi damai. Para Bidadari itu akan masuk ke rumah-rumah dan menyebarkan bubuk bahagia pada mimpi orang-orang yang terlelap. Jadi ketika orang-orang itu bangun, tanpa mereka sadari mereka sudah membawa bubuk bahagia itu di dalam darahnya. Jika mereka bahagia mereka akan kuat. Hanya merasa bahagia yang akan melahirkan kekuatan. Sehingga mereka akan berusaha sekuat tenaga mengejar mimpi mereka dalam hari-harinya dengan kekuatan itu.”
Benar saja, seperempat jam kami meliukkan tubuh dengan diiringi musik dari hati kami serta mantra syahdu yang begitu lembut keluar dari tubuh rapuhnya. Tak lama kemudian dari angkasa turun beribu-ribu cahaya. Seulas senyum ada disudut wajahnya yang penuh dengan guratan-guratan waktu.
”Mungkin salah satu Bidadari itu ibumu, Nduk. ”
Seperti sihir, kata itu mampu selalu memberi terang sebenderangnya dalam hatiku. Terang yang mampu melahirkan gambar perempuan dengan panggilan Ibu. Sejak aku lahir perempuan itu tidak pernah aku sentuh. Konon, satu-satunya anak perempuan Simbah Ibu itu meninggal ketika aku lahir dan bapakku menjadi gila terus menghilang entah di mana. Mungkin itu sebabnya perempuan tua itu kupanggil Simbah Ibu, Karena hanya dia perempuan yang bisa kupanggil ibu.
Ketika mantra selesai, Simbah Ibu menengadahkan tangannya ke atas dan berserulah dia dengan penuh cinta ke angkasa. Dalam sekejap cahaya-cahaya yang bergemuruh datang seperti hujan meteor menembus pekatnya malam. Cahaya- cahaya itu berhamburan masuk ke rumah-rumah penduduk. Setiap rumah yang dimasuki cahaya itu selalu memancarkan sinar benderang luar biasa. Kami percaya itulah cahaya jelmaan bidadari. Saat Bidadari-Bidadari turun di mataku adalah waktu di mana lukisan terindah sedang dilukis oleh Maha Cinta. Karena angkasa menjadi begitu banyak berwarna. Warna dari mimpi yang melahirkan cinta.
Sekitar jam 3 pagi cahaya-cahaya itu kembali ke angkasa dan menghilang dalam pekat. Dengan kelegaan luar biasa Simbah Ibu selalu mengajakku bersujud mencium bumi sebagai tanda rasa syukur luar biasa karena para Bidadari telah sudi turun membagi cahaya dari Maha Cahaya kepada penduduk desa kami. Bumi seperti mengerti, setiap kami selesai bersujud maka beribu kunang-kunang berhamburan entah dari mana datangnya mengerumuni kami dan aku percaya kunang-kunang itu dihadiahkan para Bidadari untuk memberi senyuman pada wajahku karena konon pada roh-roh suci selalu menjelma menjadi kunang-kunang. Aku begitu yakin kunang-kunang adalah cara roh suci ibuku berbicara padaku. Ya, harum tubuh ibuku di antara kunang-kunang yang menari di antara malam dengan pekat yang hebat…
Setiap pagi penduduk desaku bangun dengan wajah gemerlap penuh cahaya yang menyemburat dari dalam dada mereka. Mereka tidak tahu bahwa setiap malam Bidadari-Bidadari penghuni sorga turun menebarkan serbuk cahaya pada mimpi mereka. Demikianlah di desa kami yang sangat sederhana itu setiap malam kami memanggil Bidadari-Bidadari itu karena Simbah Ibu yakin jika rahim-rahim merah muda penduduk desa kami bahagia maka bayi-bayi yang akan lelap di dalamnya akan menjadi bayi yang penuh dengan cinta di dadanya. Jadi ketika mereka nanti lahir maka dunia akan penuh dengan cinta karena bayi-bayi itu akan terus memancarkan detak jantung yang memompa cinta ke seluruh jaringan nadinya.
Setiap malam meskipun desa kami tak punya listrik, desa kami selalu benderang dengan cahaya Bidadari-Bidadari yang turun. Malam-malam yang sangat membahagiakan. Kemana pun kami pergi, para penduduk selalu memberi senyum tulus tak terhingga kepada kami, Pemanggil Bidadari, begitu mereka menyebut kami. Betul, ilmu memanggil Bidadari itu memang telah diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyangku. Hanya keluargaku yang memiliki ilmu itu.
Hingga satu hari entah karena terlalu renta atau karena memang sudah saatnya, Simbah Ibu pergi menemui Maha Cahaya. Sejak itu duniaku benar-benar gulita. Meskipun sebelum pergi Simbah Ibu sangat mewanti-wanti untuk tetap meneruskan memanggil Bidadari di setiap malam, pesan itu tak pernah kujalankan. Aku begitu marah luar biasa, tidak tahu kepada siapa. Setiap malam aku memilih tidur untuk melupa kerinduanku pada Simbah Ibu dari pada memanggil Bidadari untuk desaku. Demikianlah sejak Simbah Ibu pergi, tak ada lagi yang memanggil Bidadari. Tentu saja akibatnya malam semakin membuat kelam desaku. Tak ada satu pun cahaya yang memancar di atap-atap rumah penduduk. Tak ada serbuk cahaya yang menaburkan cinta pada mimpi-mimpi mereka. Akibatnya setiap pagi orang-orang menjadi kekeringan oleh cinta karena pada darahnya tak lagi mengalir bahagia. Hidup menjadi penuh kekhawatiran karena orang-orang tak lagi mau bermimpi. Mereka takut untuk bermimpi. Mereka menjadi lemah. Tak ada lagi kekuatan untuk mengejar mimpi. Banyak penduduk desaku yang akhirnya meninggal karena mereka memilih itu dari pada hidup tanpa mimpi. Aku tak tahan dengan pemandangan itu. Hingga pada satu pagi yang masih menyisakan pekat yang sepekat-pekatnya kutinggalkan desaku. Demikianlah keturunan terakhir pemanggil Bidadari tak lagi berada di desa itu.
Bertahun-tahun kutinggalkan desaku, tanpa kenangan sedikit pun. Setiap kali ingatan tentang Simbah Ibu dan desaku yang penuh cahaya Bidadari itu muncul, buru-buru aku bunuh dengan minuman atau obat yang membuatku terlelap sedalam-dalamnya dalam mimpi tanpa matahari. Hatiku tak lagi mampu merasakan apa pun. Meskipun kata orang-orang kecantikanku mampu membuat tulang di leher para lelaki bergerak tetapi tak sedikit pun aku mampu merasakan detak dalam hatiku, orkestra itu telah mati. Senyum tak ada lagi ada dalam mataku. Orkestra itu telah pergi bersama kepergian Simbah Ibu. Kesedihan yang tak bisa dieja oleh huruf paling purba sekalipun. Aku pilih pekerjaan yang membuatku selalu harus berjalan ke segala pelosok dunia untuk melupa. Tapi ingatan adalah sebuah luka yang sangat menyakitkan. Hingga suatu hari aku menyerah pada kesedihanku. Rindu yang tak tertahan luar biasa membuatku melolong berhari-hari tanpa henti. Kupanggil berkali-kali perempuan bermata sorga itu. Aku benar-benar rindu memanggil Bidadari. Aku rindu kunang-kunang yang keluar dari bumi. Aku rindu ibuku. Aku rindu malam. Aku rindu bersujud pada bumi. Aku rindu melihat wajah-wajah bahagia di desaku. Aku rindu Hidup. Pada tahun ke 9 tepat setelah kematian Simbah Ibu aku putuskan kembali ke desaku.
***
Rumah Simbah Ibu tetap sama dengan waktu aku tinggalkan dulu. Wasino tukang kebun kami yang sekarang sudah begitu renta masih tetap setia merawat rumah itu. Foto-foto yang mulai pudar warnanya tetap melekat pada dinding kamar. Ingatan memang sangat kurang ajar, karena hanya ingatan yang mampu mengubah waktu dalam sekejap. Seperti kembali di mana bau rokok klembak Simbah Ibu bercampur melati yang keluar dari sanggulnya menjadi bau yang selalu aku rindukan setiap kali pulang sekolah. Aku begitu rindu luar biasa pada perempuan itu. Penduduk desaku silih berganti datang mengucapkan selamat datang. Wajah-wajah mereka begitu penuh dengan rasa lelah luar biasa. Entah kapan terakhir mereka merasa bahagia. Wajah-wajah itu begitu berharap aku kembali memanggil Bidadari untuk mereka. Tetap mulut mereka membisu. Mereka takut berharap karena hanya harapan yang melahirkan luka. Untuk pertama kalinya sejak 9 tahun ini aku sangat merasa bersalah pada Simbah Ibu karena berhenti memanggil Bidadari. Aku melolong sejadi-jadinya karena rasa sesal itu begitu tak tertahankan. Aku putuskan malam ini aku kupanggil Bidadari kembali.
Benar saja, tepat jam 12 malam kulakukan kembali ritual yang dulu selalu kulakukan bersama Simbah Ibu. Mungkin karena memang darahku adalah darah pemanggil Bidadari tak lama kemudian langit seperti benderang siang, Cahaya-cahaya yang selalu kurindukan itu turun seperti hujan yang meruah dari angkasa. Dadaku kembali berdentam dan orkestra di dalamnya mulai berbunyi. Para Bidadari kembali menaburkan cahaya pada mimpi-mimpi. Orang tanpa mimpi lebih dahulu mati daripada kematian itu sendiri. Airmataku tak henti-henti keluar, tapi aku tahu ini bukan airmata kesedihan tapi airmata dengan cahaya yang keluar dari dadaku. Serbuk bahagia dari para Bidadari itu mengalir juga ternyata dalam mimpiku. Kunang-kunang kembali berhamburan bahkan sebelum aku bersujud ke bumi. Kunang-kunang yang pasti di antaranya juga ada roh suci Simbah Ibu itu seperti mengerti bahwa aku mulai mengisi darahku kembali dengan mimpi karena hanya mimpi yang mampu meneruskan hidup. Karena mimpi adalah kekuatan.

Rabu, 29 Februari 2012

Pada Suatu Perjalanan


Pada suatu perjalanan

Riuh bumi membangun kan dari tidur ku malam tadi. Suara suara burung yang bernyanyi ikut meramaikan. Secerca sinar tajam menusuk mata ku, yang memaksa ku bangkit dari angan angan panjang ku. Ku singkapkan segera kain sarung mini yang sudah sangat lusuh itu dari badan ku. Uuuh, bau nya bagai bau orang yang sudah tersesat ditengah lautan selama sebulan. Ku berdiri, sambil merapikan rambut ku yang sepupuan dengan ijuk ini.
                Ku ambil sepeda reot ku dari samping gubuk tua ku. Ku usap sedikit stank nya, sambil berkata “Semoga ini lah hari keberuntungan ku”. Itu seperti mantra ku setiap pagi untuk memulai pagi ku.
                Sepeda ini adalah sepeda warisan kakek ku yang ia beli saat jepang hengkang dari negeri ini. Wajar saja pedal nya keras, dan selalu berderik derik ketika ku mengayuh nya perlahan.
“Hah, hidup hidup.. derikan sepeda ini, nyanyian burung, dan pohon pohon tua ini lah yang selalu menemani hidup ku.”
Aku adalah seorang anak sulung dari 3 bersaudara. Semenjak ayah ku pergi meninggalkan dunia ini, ibu ku begitu depresi yang akhirnya menghantarkan nya juga keujung hayat nya. Setelah meninggal nya ibu ku, kedua adik perempuan ku diambil oleh sanak keluarga ku. Lalu aku diasuh oleh kakek ku disebuah gubuk kecil ditengah hutan. Kami hanya tinggal berdua. Tetapi, memang mungkin tuhan ingin mengajarkan aku, agar aku dapat kokoh dengan mandiri. Setahun aku hidup bersama kakek ku, ia pun menghembuskan nafas terakhir nya. Yang membuat ku sangat terpukul, ia pergi karena ingin menyelamatkan ku saat aku tenggelam dilaut. Kaki nya termakan oleh putaran baling baling perahu, karena tak kuat menahan sakit nya, akhirnya ia pun meregang nyawa nya dilaut itu, sempat aku mengusap wajah nya, berteriak meminta tolong, tetapi ia pergi begitu cepat. Bak badai yang begitu dahsyat dan berlalu begitu cepat;menegangkan dan sebentar. Suara ku langsung membahana ditengah lautan.
                Semenjak kepergian kakek,aku hidup sendiri di gubuk buatan kakek. Hari hari ku ,ku rasakan begitu sunyi. Berusaha menghidupi diri ku sendiri ditengah keburaman negeri ini.
                Aku bekerja sebagai buruh panjat kelapa,dan pengantar koran. Upah nya tak seberapa. Tetapi,cukup untuk makan ku hari itu. Aku, tak lagi bersekolah. Semenjak kakek pergi, sekolah ku putus. Tentu saja itu karena aku tidak mampu meneruskan nya. Sesungguh nya, jauh dihati ku yang paling dalam, aku mempunyai keininan untuk menjadi seorang sarjana. Ah, itu hanya angan angan yang tidak mungkin dapat ku gapai.**
                Pagi ini, aku mendapat tugas untuk memanjat pohon kelapa dikebun Pak Harfan. Letak nya di tepi pantai. Lumayan jauh dari gubuk ku. Pak Harfan bilang, jika aku dapat menjatuhkan 200 kelapa,aku akan diberi bonus. Senang rasanya ketika mendengar Pak Harfan berkata seperti itu, nanti uang nya akan aku tabung untuk membeli sarung. Aku malu dengan tuhan ku, masa harus berjumpa dengan nya hanya menggunakan sarung lusuh dan baju compang camping.**
                “Oo Ramjan ! Kau panjat kebun sebelah sini nanti ya !”Teriak Pak Harfan.
Sambil tersenyum aku mengacungkan jempol kurus ku pada nya,pertanda aku mengerti akan perintahnya.
                Sekitar tiga jam aku berayun ayun,berpindah dari satu pohon, kepohon lain nya.
Kayak nya udah cukup lah.” Aku meloncat turun dari atas pohon kelapa. Aku mulai menghitung satu persatu buah kelapa tua itu.
“198,..199.. 200 ... ! yuhuuuuuuu !!!” teriak ku. Sejenak aku terdiam, bluump. Ku palingkan wajah ku kebelakang, kulihat sebuah kelapa menggelinding menuju pantai. Ku kerahkan sejuta tenaga ku mengejar kelapa itu. Tcuuuuuuussh .. sekujur tubuh ku tenggelam di air laut itu,ku kejar kelapa itu hingga dedasar. Ku dapatkan buah kelapa itu,ku peluk erat sambil berenang kepermukaan. Sreeeeeeeeeeeeeeeng... Suara mesin perahu tiba tiba terdengar. Menggema diair. Seketika sekujur tubuh ku kaku. Seketika ku rasakan dingin nya tangan kakek saat ia meregang nyawa nya,terbayang wajah pirus kakek yang masih bisa tersenyum saat ia meregang nyawa nya, dan suara kakek terngiang ditelinga ku. Kelapa tua itu terlepas dari pelukan ku,melayang bersama tubuh kurus ku tengah sepi nya air laut .**
Saat aku membuka kelopak mata ku,pandangan ku berbayang bayang. Ku lihat semua menjadi kembar. Suara mesin yang keras menyadarkan ku.
Dah sadar kau? Nah, minum la ni biar ndak dingin kau.
makasih mak!
Ku teguk minuman itu hingga habis. Kurasakan sensasi hangat disekujur tubuh ku. Rasa ploong sekali. Tapi, apa ini ?  Ya Allah, jangan jangan ini arak ?!
                “Apa ni mak ?”
                “Tuak, mau tambah ? ni haa
Aku menggeleng kuat. Kakek pernah bilang kepada ku,untuk menjauhi minuman yang memabukkan. Jika kakek masih hidup, mungkin kakek akan melibas ku dengan lidi kelapa seratus kali.
Suara mesin ini, kembali membuat kepala ku pusing. Mungkin ini yang dibilang banyak orang;trauma. Kakek, kakek ku meninggal karena mesin ini !
                Orang orang di perahu ini berusaha mengajak ku bercengkrama. Tetapi,kecemasan ku ini membuat bibir ku enggan melebar, menunjukkan senyum. Mungkin orang orang diperahu ini,lelah menghiburku. Aku tidak tahu,entah kemana mereka akan membawa ku. Yang terpikir oleh ku, cepat turun dari perahu bermesin ini dan memberikan kelapa kelapa tua ini kepada Pak Harfan.
                Mamak nak kemane ? aku nak pulang ?
                Kami nak keBatam. Kau tinggal dimana ?”
Ya ampun, jauh nya aku terbawa. Aku hanya tertekun. Bagaimana Pak Harfan,pasti ia akan marah kepada ku. Pikiran melayang terbawa angin timur.**
                Salah seorang mamak diperahu itu mengangkat ku menjadi anak nya, karena ia tidak mempunyai anak. Hendarto nama salah seorang mamak yang mengangkat ku menjadi anak itu. Istri nya bernama Shinawa.Ku rasakan keluarga ini begitu hangat. Aku merasakan kembali kehangatan keluarga ku disini. Aku disekolah kan ,dirawat,dan diberi kasih sayang.**
                Hingga disuatu saat, ibu angkat ku itu sakit. Seharian ia mual mual, suhu tubuh nya meningkat,wajah nya pun pucat. Aku kasihan kepadanya. Ayah angkat ku pergi ke Pekanbaru. Aku takut terjadi sesuatu kepada nya,aku segera membawa nya kerumah sakit.
                Dokter itu hanya tersenyum kepada ku. Aku bingung. Aku hanya anak SMA yang belum mengerti masalah kesehatan.
                “Ibu mu itu hamil,bukan sakit”
Oh tuhaan ! Ini sebuah kabar yang sangat mengembirakan. Tujuh belas tahun orang tua angkat ku ini tidak dikaruniai anak, dan sekarang ,sekarang ibu angkat ku hamil ! Aku langsung mengabari ayah angkat  ku. Ayah angkat  ku begitu bahagia mendengarnya, dan berpesan untuk menjaga ibu selagi dia diperjalanan pulang.**
                Tiba saat nya ibu melahirkan. Aku dan ayah begitu was was menunggu kelahiran nya. Sejenak aku tertekun. Aku menunduk,tanpa seizin ku buliran air mata jatuh dari pelupuk mata ku. Ayah mengusap wajah ku,wajah nya begitu pasti. Air wajah nya begitu damai. Ku peluk ia erat erat.
                “Terimakasih yah,telah membesar kan aku..”
                “Terimakasih juga, kau telah menjadi anak ku dan istri ku. Sekarang kau akan punya adik.”
Degup jantung ku tiba tiba saja kencang. Adik ..Aku mempunyai adik ! Sebelumnya, aku juga telah mempunyai adik. Sekian tahun aku melupakan kedua adik perempuan ku. Ayah angkat  ku menyuruh ku untuk menyelesaikan sekolah ku terlebih dahulu,baru lah aku mencari kedua adik ku.**
                Anak kandung ibu, ternyata perempuan. Namanya sekar Wulan. Wajah nya bulat,bulu mata nya melentik,alis mata nya mirip dengan taji ayam. Dagu nya meruncing,cantik dan elok pekerti nya. Sekarang ia sudah menginjak sekolah dasar. Dan aku, usia ku makin tua. Aku mendapat beasiswa kuliah ke Paris. Dan membuahkan beberapa huruf dibelakang namaku, “RAMJAN DAERMA .Msc.”.Tentu saja itu semua tidak lepas dari bimbingan dan dukungan orang tua angkat ku, Pak Hendarto dan Buk Shinawa, serta adik kecil ku;Sekar. Semangat ku juga tidak lepas dari bayang bayang kakek. Terimakasih, ayah,ibu,adik,dan kakek .. **
                Senja telah merona di langit. Matahari malu malu mulai bersembunyi, langit memerah, dibingkai oleh burung burung yang berterbangan.
                Hari ini adalah hari yang menyenangkan bagi ku. Artikel artikel ku diterima oleh para produsen. Terlukis senyum diwajah ku. Senyum tulus karena jeri payah ku terbayar sudah. Ku letak kan tas ransel ku diatas meja kerja ku yang bertumpukan dengan kertas kertas putih. Ku hempaskan tubuh ku diatas gundukan kapas;tempat tidur. Ku biarkan pikiran ku melayang layang menikmati keberhasilannya.**
                Tiba tiba aku mendengar suara tangisan anak kecil dari sudut kamar. Aku berdiri dan langsung bergegas menuju sumber suara tangisan itu. Mungkin kah Sekar menangis ? Tetapi suara tangisan itu suara tangisan anak lelaki. Ku temui sesosok anak lelaki yang meringkuk di belakang pintu kamar ku. Tubuh nya kurus,wajah nya bulat,dan pakaian lusuh.Tangisan nya begitu pilu. Ku pegangi pundaknya,berusaha menenangkan nya. Tapi, ia memberontak dan menangis semakin kuat. Siapa anak ini ?
“Dik, kamu siapa ? Dan kenapa kamu menangis ?”
“Hiks..hiks.. kau,kau yang membuat ku menangis ! membuat ku menyesali hidup ku !”
Aku bingung dengan ucapan anak ini. Apa yang dimaksud nya, tidak bisa ku cerna. Sebelum nya, tidak pernah ada anak laki laki yang pernah bertamu kerumah ini hingga malam begini. Aku kembali bertanya kepada nya dengan pelan.
“Tenang, nama mu siapa ?”
“Ramjan.”
Aku berdiri menjauhi nya. Aku berusaha menggapai stopkontak lampu untuk menghidupkan lampu kamar ku. Tapi, kemana stop kontak nya ? biasanya, dia tertanam di tepi kusen pintu kamar ku. Bak menghilang ditelan dunia. Aku dan anak itu diselubungi kegelapan.
“Kau orang jahat ! Kau benar benar jahat ! aku tak pernah ingin tumbuh besar menjadi kau ! aku adalah anak baik. Yang akan menjaga dan merawat adik adik perempuan ku. Bukan seperti kau !”
Teriakan nya membahana di telinga ku. Bayangan bayangan suram masa lalu ku kembali singgah di kepala ku setelah lama dia mati didalam hati ku. Teriakan ibu kandung ku saat ayah meninggal, ibu ku yang depresi,adik adik ku yang diambil oleh saudara ku, aku yang ditinggal sendiri,kakek yang merawat ku, kakek yang menolong ku, dan kematian kakek dihadapan ku. Semua nya muncul bergantian dikepalaku.
“Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak ! aku bukan orang jahat ! siapa kau ?!”
“Aku adalah kau. Ingat kah kau, saat kau bangun dari mimpi indah mu, disaat kakek bilang,banguun Jan,jadi la urang berhasil. Ambik balek adik adik kau tu. Jangan lupa kau pada urang tu.
Dulu kakek selalu berkata begitu kepada ku. Kakek selalu berpesan agar aku jangan pernah melupakan adik adik perempuan ku. Karena itu, kakek dan aku selalu berusaha mencari uang untuk kembali membawa kedua adik ku. Butiran intan murahan jatuh bercucuran diwajah ku. Anak itu memandangi ku begitu tajam. Sorot mata nya menusuk hatiku, menghancurkan peti masa lalu ku. Mengacak acak berkas berkas kehidupan ku yang memilukan.
“Jangan pernah kau menjadi orang yang melupakan janji !”
Suara suara ancaman anak itu menggema di seluruh ruangan kamar ku. Anak itu kemudian menghentikan tangisan nya. Pandangan nya berpindah ke tempat tidur ku. Tangan kurus nya melintang mengarahkan pandangan ku.
Kulihat tubuh seorang lelaki muda yang tertidur dengan air mata diwajah nya. Wajah nya mirip dengan ku. Ku dekati perlahan, tiba tiba anak kecil itu berteriak melengking dan mengaget kan ku.**
Kejadian tadi malam,selalu terbayang di mata ku. Aku memutuskan untuk kembali keSelat Panjang,tempat aku dilahirkan. Ayah ,ibu dan adik angkat ku melepas kepergian ku dengan haru. **
Di perjalanan, aku menaiki perahu modern yang menggunakan mesin super kencang. Karena tidak ada pesawat yang transit ke daerah ku itu.
Suara para inang inang yang riuh membuat tak bisa tenang. Hingga dua jam kemudian inang inang itu pergi menuju darat. Baru ku rasakan  kenyamanan disini. Tiba tiba ada seseorang yang memukul pundak ku.
“Kakek ?”
“kau terlambat cucuk ku.”
Aku tak mengerti ini. Suara mesin yang keras membuat ku kaget. Saat aku kembali melihat kesamping, kakek sudah tak ada. Mesin perahu terus menggerang,ingatan ku mulai menggambarkan saat kakek meninggal karena menyelamatkan aku,saat aku berenang menyelam meraih kelapa, ingatan ku,ingatan ku !**
Desa kecil ku kini telah berevolusi. Dulu, kebun Pak Harfan lah yang menjadi penyambut para tamu yang datang kedesa ini. Tapi sekarang, telah berdiri sebuah perusahaan kelapa sawit yang besar. Entah siapa pemilik nya.
Aku berjalan menuju gubuk sederhana ku dulu. Tetapi, yang ku temui hanyalah sebuah rumah sederhana yang aku tak kenal pemilik nya. Ku teruskan menuju rumah Pak Harfan, rumah nya tidak berubah. Ku ketuk pintu rumah nya perlahan. Tiba tiba keluar seorang lelaki paruh baya, yang berkumis tebal. Mirip dengan Pak Harfan,tapi tak mungkin Pak Harfan masih muda,pastilah usia nya sudah tujuh puluh tahunan.
Lelaki itu menanyakan nama ku. Ia tampak kebingungan dengan ku. Wajah nya seperti tidak suka dengan kedatangan ku.
“Aku Ramjan, buruh panjat kelapa 16 tahun dulu?”
Lelaki itu berusaha mengingat ingat aku. Dan sesaat kemudian ia berteriak,”aaah, yayaya, si Ramjan itu. Sudah sukses kau sekarang ?”
  Sekarang aku tau, dia adalah bag Pi’i. Anak pertama Pak Harfan. Dan Pak Harfan sudah lama meninggal.**
               Bang Pi’i mengantarkan ku kerumah saudara ku yang mengambil adik adik ku dahulu. Dia hanya bercerita sedikit tentang keluarga ini, dan pulang kembali meninggal kan ku.
               Ku temui mak etek yang sedang merajut diteras rumah. Ia terkejut akan kedatangan ku. Dia menganggap ku orang asing. Mak etek sama sekali tidak mengingat ku. Aku berusaha mengingatkan ia tentang aku. Ia menangis dihadapan ku.
              Ia bercerita tentang perusahaan kelapa sawit didepan pulau, katanya, perusahaan itu adalh hasil rintisan kedua adik ku. Aku tersenyum bangga,tapi tiba tiba senyum ku pecah menjadi deraian air mata. Mak etek melanjutkan ceritanya. Perusahaan itu dulu menjadi bahan rebutan oleh para tengkulak tengkulak serakah. Para tengkulak tengkulak itu mengadakan pemberontakan besar besaran di perusahaan itu, dan saat itu kedua adik ku berada disana. Tampa ampun, tengkulak tengkulak itu memukuli kedua adik ku hingga tewas.**
                 Didepan gundukan tanah ini aku menjatuhkan butiran butiran air mata ku. Kugenggam tanah kuning didepan ku. Aku adalah kakak yang jahat. Aku melupakan kedua adik ku. Kakek.. kini hanya penyesalan yang ada pada ku,penyesalan pada suatu perjalanan hidup ku ..